Lombok Barat, NTB — Menjelang musim tanam, sejumlah petani di Kecamatan Sekotong mulai membersihkan lahan garapan untuk mempersiapkan tanaman. Namun, cara membuka lahan dengan membakar ranting dan daun berisiko menimbulkan persoalan baru apabila api tidak terkendali.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Bintara Pembina Desa (Babinsa) jajaran Komando Rayon Militer (Koramil) 1606-06/Sekotong. Babinsa turun langsung memberikan edukasi dan imbauan kepada warga penggarap lahan agar tidak menggunakan api sebagai cara membersihkan lahan pertanian, Jumat (14/8/2026) siang.
Dalam pemantauan di sejumlah lokasi, ditemukan pembakaran lahan garapan warga di Dusun Taman Sejati, Desa Taman Baru; Dusun Mekar Sari, Desa Sekotong Barat; serta Dusun Batu Sakti, Desa Kedaro, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Komandan Koramil (Danramil) 1606-06/Sekotong Kapten Inf Muhadi dalam laporannya menerangkan, di Dusun Taman Sejati, lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 30 are. Sementara di Dusun Mekar Sari, luas lahan yang terbakar sekitar 50 are. Adapun di Dusun Batu Sakti, lahan garapan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
“Lahan tersebut berada di luar kawasan hutan dan merupakan lahan garapan petani. Pembakaran dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim tanam ketika hujan mulai turun,” terangnya.
Koramil 1606-06/Sekotong mengingatkan bahwa api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan cepat merembet, terutama ketika kondisi lingkungan kering dan terdapat semak atau material mudah terbakar di sekitar lokasi.
Babinsa Serka Saeful Bahri bersama Kepala Dusun Mekar Sari dan pemilik lahan turut memberikan edukasi kepada warga. Hal serupa dilakukan Babinsa Sertu Edy Kusuma Jaya bersama Kepala Dusun Batu Sakti dan pemilik lahan.
Sementara itu, Babinsa Desa Taman Baru Sertu Masnan juga menyampaikan imbauan langsung kepada para petani agar lebih berhati-hati dalam membersihkan lahan dan tidak menjadikan pembakaran sebagai pilihan.
“Kami mengimbau kepada para petani agar tidak membersihkan lahan dengan cara membakar. Ranting, daun kering dan semak yang sudah dibersihkan sebaiknya dikumpulkan atau dimanfaatkan menjadi bahan organik. Jangan sampai api yang awalnya kecil justru tidak terkendali dan merembet ke lahan milik warga lainnya,” ujar Sertu Masnan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan api dalam kondisi masih menyala serta segera melaporkan apabila menemukan titik api yang berpotensi meluas.
“Kalau memang ada pembakaran yang sudah dilakukan, pastikan api benar-benar padam dan jangan ditinggalkan begitu saja. Kami mengajak seluruh warga bersama-sama menjaga lingkungan, karena mencegah kebakaran lebih baik daripada menangani dampaknya setelah api meluas,” tegasnya.
Edukasi Jadi Langkah Pencegahan
Langkah yang dilakukan Babinsa bukan sekadar memantau titik pembakaran, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar pengelolaan lahan dilakukan dengan cara yang lebih aman.
“Warga diimbau membersihkan ranting, daun kering dan semak tanpa membakarnya. Material hasil pembersihan lahan dapat dikumpulkan atau dimanfaatkan sebagai bahan organik sehingga tidak menimbulkan potensi penyebaran api,” tutur Serka Saeful Bahri, Babinsa Sekotong Barat.
Pendekatan langsung kepada petani dinilai penting karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan kondisi lahan. Dengan komunikasi yang baik, potensi kebakaran dapat dicegah sejak awal.
“Kami juga mengajak warga segera melaporkan apabila melihat titik api yang berpotensi meluas. Kewaspadaan bersama menjadi kunci, terutama saat kondisi lingkungan masih kering dan aktivitas pembukaan lahan mulai meningkat,” ucapnya.











