Karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
Ia menambahkanm, “Sebagai aparat kewilayahan, Kodim 1606/Mataram bersama Koramil dan Babinsa akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat. Babinsa diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara warga, pemerintah dan aparat keamanan.” Jelasnya.
Kedekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan sekaligus mendeteksi berbagai persoalan sejak dini.
Polri Ajak Warga Tidak Mudah Terprovokasi
Pesan serupa disampaikan Wakasat Reskrim Polresta Mataram Iptu Sang Putu Gede, S.H. Dalam sesi penyampaian materi dan diskusi, masyarakat diajak ikut menjaga situasi keamanan dengan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Keamanan, membutuhkan keterlibatan bersama. Ketika muncul persoalan di lingkungan masyarakat, penyelesaian melalui komunikasi dan kepala dingin menjadi pilihan penting agar masalah tidak semakin berkembang,” harapnya.
Pendekatan tersebut semakin relevan di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial. Satu informasi yang tidak benar dapat dengan mudah menyebar dan menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
Karena itu, kemampuan masyarakat untuk bersikap kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi menjadi bagian dari upaya pencegahan konflik sosial.
Ruang Dialog untuk Menemukan Solusi
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Peserta membahas berbagai persoalan serta potensi konflik sosial yang dapat terjadi di wilayah.
Kehadiran Kanit PPA Polresta Mataram Aiptu Rahayu, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan perwakilan organisasi kemasyarakatan memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas unsur.
“Setiap komponen memiliki peran masing-masing. Namun, tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yaitu menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, harmonis dan kondusif.” ucapnya.
Melalui forum tersebut, peserta juga didorong untuk memperkuat silaturahmi dan membangun komunikasi dua arah. Dengan komunikasi yang baik, persoalan di tingkat masyarakat diharapkan dapat diketahui lebih cepat dan dicarikan jalan keluar secara bersama-sama.
Menjaga Mataram Dimulai dari Kepedulian
Pada akhirnya, menjaga Mataram tetap aman, harmonis dan inklusif bukan hanya tentang mencegah konflik ketika persoalan sudah terjadi. Lebih jauh, upaya tersebut merupakan proses membangun lingkungan yang membuat masyarakat merasa dihargai, didengar dan dilibatkan.
Binkom Cegah Konflik Sosial menjadi pengingat bahwa keamanan tidak berdiri sendiri. Ada toleransi, komunikasi, kepedulian dan kebersamaan yang harus terus dirawat.
Perbedaan pilihan, pendapat maupun latar belakang merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat. Namun, perbedaan tersebut dapat dikelola melalui dialog dan musyawarah sehingga tidak berubah menjadi pertentangan.
Dengan sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan seluruh elemen warga, potensi konflik di wilayah Kota Mataram, Lombok Barat dan Lombok Utara diharapkan dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, Mataram sebagai Kota Harapan akan terus menjadi rumah bersama apabila seluruh masyarakat memilih menjaga persatuan, memperkuat komunikasi dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang damai.











