Ia menguasai Bahasa Inggris aktif dan Bahasa Spanyol pasif serta memiliki prestasi OSN-P Ekonomi, OSN-P Astronomi, Olimpiade Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin, Paskibraka tingkat provinsi dan Exhibition NZ Science.
Ayahnya, Eduard Blesya, bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya, Supriyani, merupakan guru.
9 Siswa Sepolwan Berlaga di Ajang Internasional
Talenta siswa juga terlihat dari 9 siswa yang mengikuti kompetisi olahraga internasional.
Sebanyak 8 siswa mengikuti ASEAN Games di Jepang, sedangkan 1 siswa mengikuti Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di China dan Chili.
Tinju – ASEAN Games Jepang
* Nabila – Nosis 648, Kelas 2F.
Hockey – ASEAN Games Jepang
* Fatma Sri Hapsari – Nosis 417, Kelas 2D.
* Dea Destian – Nosis 444, Kelas 3D.
* Natasya Naiborhu – Nosis 400, Kelas 1D.
* Richa Azlia – Nosis 649, Kelas 2F.
* Asri Dewi Prasasti – Nosis 675, Kelas 3F.
* Innes Aditiya – Nosis 324, Kelas 3C.
Balap Sepeda – ASEAN Games Jepang
* Ayustina Delia Priatna – Nosis 338, Kelas 4C.
Panjat Tebing – Kejuaraan Dunia
* Kadek Adi Asih – Nosis 066, Kelas 3A.
Keberadaan para siswa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Polwan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan prestasi di luar kompetensi kepolisian.
Di bidang bahasa asing terdapat siswa yang menguasai Bahasa Inggris, Arab, Turki dan Spanyol. Di bidang olahraga terdapat pengalaman internasional dalam cabang downhill, kabaddi, judo, futsal, dayung, karate, panjat tebing, bulutangkis, hockey, menembak dan kick boxing.
Prestasi nasional juga tercatat dalam Karate, Taekwondo, Pencak Silat, Voli, Kempo, Bulutangkis, Selam dan Hockey Indoor.
Di bidang seni, siswa memiliki kemampuan memainkan gitar, keyboard, biola, flute dan saxophone, serta bernyanyi, menciptakan lagu, paduan suara dan tari tradisional.
Sementara di bidang komunikasi terdapat siswa dengan kemampuan public speaking, MC formal, moderator, talkshow hingga stand-up comedy.
Wakapolri: Prestasi Harus Jadi Modal Berkembang
Wakapolri menegaskan bahwa prestasi siswa tidak boleh berhenti sebagai penghargaan.
Kemampuan yang sudah terlihat sejak pendidikan perlu dipetakan dan dikembangkan sebagai bagian dari manajemen talenta Polri.
“Prestasi jangan berhenti sebagai piala. Jadikan prestasi sebagai modal untuk terus belajar dan berkembang. Kalian harus terus meningkatkan kemampuan karena tantangan Polri ke depan semakin kompleks,” ujar Wakapolri.
Siswa Polwan yang berprestasi juga didorong memperoleh kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan lanjutan, termasuk S1 STIK dan program pendidikan yang didukung LPDP.
Dalam kunjungannya, Wakapolri melihat langsung sejumlah fasilitas pendidikan.
Di kelas digital, Wakapolri melihat penerapan pembelajaran berbasis teknologi.
Di kelas judo dan kelas menembak, Wakapolri melihat proses pembentukan keterampilan dan kesiapan fisik siswa.
Sementara di dormitory, Wakapolri melihat kehidupan siswa di luar kelas yang menjadi bagian dari pembentukan disiplin, kemandirian dan kebersamaan.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang dialog langsung antara pimpinan Polri dengan generasi Polwan yang sedang dipersiapkan untuk bertugas.
Wakapolri berharap kapasitas Sepolwan dapat dimaksimalkan sehingga pada 2027 mampu mendidik 1.000 Polwan, dengan tetap memperhatikan kesiapan sarana-prasarana dan kualitas pendidikan.
Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra S., M.Si. menyampaikan bahwa Lemdiklat terus melakukan pembaruan sistem pendidikan, termasuk penguatan LMS dan kerja sama pendidikan internasional.
OBE mengubah orientasi pembelajaran menjadi kompetensi. LMS memperluas ruang belajar. Latja menghubungkan teori dengan praktik. Sementara pemetaan prestasi membuka ruang pengembangan talenta.











