“Anak muda jangan malu menjadi petani. Pertanian hari ini sudah berkembang. Dengan teknologi, pengelolaan yang baik, kreativitas, dan kemampuan melihat peluang pasar, pertanian bisa menjadi usaha yang menjanjikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pertanian tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai strategis bagi keberlangsungan bangsa. Karena itu, keterlibatan generasi muda sangat dibutuhkan agar sektor pertanian tidak kehilangan penerus.
Ketahanan Pangan Dekat dengan Kehidupan Masyarakat
Sementara itu, presenter RRI Pro 1 Mataram, Putri Mentari dalam dialog tersebut menilai pembahasan ketahanan pangan bersama Dandim 1606/Mataram memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, isu pangan sering kali baru menjadi perhatian ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga. Padahal, ketahanan pangan merupakan proses panjang yang melibatkan petani, pemerintah, TNI, masyarakat, dunia usaha, hingga generasi muda.
“Pangan itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Setiap hari kita makan, tetapi belum tentu kita menyadari bahwa di balik makanan yang tersaji ada proses panjang dan perjuangan para petani. Dialog ini menjadi penting karena mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama,” ungkap Putri Mentari.
Ia juga mengapresiasi perhatian Kodim 1606/Mataram terhadap sektor pertanian dan peran Babinsa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di tingkat desa.
“Ketika TNI, pemerintah, petani, dan masyarakat bisa bergerak bersama, persoalan pangan tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata di lapangan,” lanjutnya.
Kisah Belalang Goreng dan Perjalanan dari Keluarga Petani
Di tengah pembahasan mengenai ketahanan pangan, Kolonel Inf Nyarman membagikan kisah masa kecilnya yang tumbuh dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana.
Salah satu kenangan yang masih melekat hingga kini adalah belalang goreng yang dahulu menjadi salah satu makanan sederhana ketika dirinya mencari makanan bersama sang ibu.
Bagi sebagian orang, belalang goreng mungkin hanya dikenal sebagai makanan tradisional. Namun bagi Kolonel Nyarman, makanan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam, yakni tentang kesederhanaan, perjuangan keluarga, kasih sayang seorang ibu, serta perjalanan hidup yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Kisah tersebut sekaligus menggambarkan bahwa pangan bukan hanya persoalan angka produksi dan konsumsi. Di dalamnya terdapat cerita kehidupan, perjuangan keluarga, serta harapan agar generasi berikutnya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Pangan Kuat, Indonesia Berdaulat
Menutup dialog, Dandim 1606/Mataram kembali menekankan bahwa ketahanan pangan harus dibangun secara bersama-sama. Pemerintah, TNI, petani, masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan generasi muda memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan sektor pangan.
“Pangan kuat, masyarakat tangguh, Indonesia berdaulat. Ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah semangat yang harus diwujudkan melalui kerja nyata. Kita harus menjaga lahan pertanian, menghargai petani, memperkuat produksi, memastikan hasil panen memiliki nilai ekonomi, dan mengajak generasi muda untuk terlibat,” pungkas Dandim 1606/Mataram, Kolonel Inf Nyarman.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menjadikan ketahanan pangan bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia di masa depan.











