Lombok Barat, NTB — Di tengah arus sungai yang tenang namun menyimpan tantangan, semangat pengabdian tak pernah surut. Progres pembangunan Jembatan Garuda yang menghubungkan Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi dengan Desa Kebon Kongok, Kecamatan Gerung, terus menunjukkan geliat nyata.
Di balik pekerjaan konstruksi tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan. Anggota Komando Distrik Militer (Kodim) 1606/Mataram harus menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana dari batang pohon pisang demi mengangkut material besi, Rabu (22/4/2026).
Pemandangan itu bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol dedikasi tanpa batas. Dengan peralatan seadanya, para prajurit berjibaku di atas air, menjaga keseimbangan sambil membawa beban material yang tidak ringan. Arus sungai, kedalaman air, hingga risiko tergelincir menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang dalam mewujudkan pembangunan. Justru dari kesederhanaan tersebut lahir inovasi dan semangat gotong royong yang kuat. Rakit dari batang pisang yang tampak sederhana berubah menjadi “jembatan sementara” yang menghubungkan harapan masyarakat akan akses yang lebih baik.
Jembatan Garuda sendiri diharapkan menjadi solusi vital bagi mobilitas warga dua desa, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta membuka akses ekonomi yang lebih luas. Selama ini, warga harus memutar jauh atau bergantung pada kondisi sungai untuk menyeberang.
Dengan kerja keras yang terus berlangsung, pembangunan ini bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang pengabdian. Setiap tetes keringat prajurit menjadi bagian dari fondasi jembatan yang kelak akan dinikmati masyarakat.
Di sela kegiatan, salah satu anggota yang terlibat, Babinsa Karang Bongkot Serka L. Sakinulwadi, mengungkapkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat.
“Kalau menunggu alat lengkap, mungkin pekerjaan jadi lebih mudah. Tapi bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana pembangunan ini tetap berjalan. Walaupun harus pakai rakit dari batang pisang, kami tetap jalani dengan ikhlas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Serda Basirun, yang setiap hari turun langsung membantu pengangkutan material. “Risikonya pasti ada, apalagi saat arus sungai sedikit deras. Tapi kami sudah terbiasa. Selama ini demi masyarakat, rasa lelah itu seperti tidak terasa,” katanya.
Sementara itu, salah seorang warga, Budiman (40), mengaku terharu dengan perjuangan para prajurit yang tanpa kenal lelah membantu pembangunan di desanya. “Kami sebagai warga sangat terbantu. Melihat bapak-bapak TNI sampai menyeberang pakai rakit seperti itu, kami jadi ikut semangat. Ini bukan cuma bangun jembatan, tapi juga bangun harapan kami,” ungkapnya.
Semangat kebersamaan antara TNI dan rakyat kembali terbukti bahwa di setiap keterbatasan, selalu ada jalan untuk mewujudkan harapan.











