case.web.id – Toxic positivity, sebuah istilah yang mungkin terdengar kontradiktif, ternyata bisa menjadi batu sandungan tak terduga dalam upaya kita membangun dan memelihara pertemanan yang tulus, terutama ketika kita memasuki usia 30-an dan seterusnya. Di usia ini, kita mungkin berpikir bahwa kita sudah lebih matang dalam menjalin hubungan, namun tanpa disadari, tekanan untuk selalu berpikir positif justru bisa merusak koneksi yang kita dambakan. Mari kita telaah lebih dalam mengapa fenomena ini bisa menjadi masalah dan bagaimana kita bisa menghindarinya.
Memahami Lebih Dalam: Apa Itu Toxic Positivity?
Secara sederhana, toxic positivity adalah keyakinan bahwa seseorang harus mempertahankan pola pikir positif terlepas dari situasi yang sedang dihadapi. Kedengarannya bagus, bukan? Namun, dalam praktiknya, hal ini seringkali berarti menekan atau mengabaikan emosi-emosi negatif yang valid. Bayangkan seorang teman yang baru saja kehilangan pekerjaan, lalu kita merespons dengan kalimat seperti, “Tenang saja, semua pasti ada hikmahnya!” atau “Kamu harus tetap semangat dan berpikir positif!” Meskipun niatnya baik, respons semacam itu justru bisa membuat teman kita merasa tidak didengarkan dan emosinya diabaikan. Bentuk lain dari toxic positivity bisa berupa membandingkan penderitaan seseorang dengan orang lain yang dianggap lebih buruk, atau bahkan merasa bersalah karena merasakan emosi negatif.
Mengapa “Selalu Positif” Justru Merusak Pertemanan di Usia 30-an ke Atas?
Memasuki usia 30-an, dinamika pertemanan seringkali berubah. Kita mungkin tidak lagi memiliki waktu sebanyak dulu untuk berkumpul atau sekadar bercerita. Pertemanan di usia ini cenderung lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas. Kita mencari teman yang benar-benar memahami kita, yang bisa menjadi tempat berbagi suka dan duka tanpa penghakiman. Di sinilah toxic positivity bisa menjadi penghalang. Ketika kita terus-menerus dipaksa untuk “kuat” dan “bahagia”, kita mungkin merasa tidak nyaman untuk menunjukkan kerentanan kita. Padahal, kerentanan adalah salah satu fondasi utama dari hubungan yang mendalam dan autentik. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa berbagi emosi negatif secara konstruktif dapat memperkuat ikatan antar individu.
Dampak Nyata: Erosi Kepercayaan dan Kedekatan dalam Pertemanan
Efek jangka pendek dari toxic positivity mungkin terlihat sepele, seperti perasaan tidak nyaman atau tidak dipahami. Namun, dalam jangka panjang, hal ini bisa mengikis kepercayaan dan kedekatan dalam pertemanan. Jika seorang teman merasa bahwa emosinya terus-menerus diabaikan atau diremehkan, mereka akan cenderung menarik diri dan mencari orang lain yang lebih bisa menerima mereka apa adanya. Bayangkan jika setiap kali Anda mencoba menceritakan masalah, respons yang Anda dapatkan hanyalah kalimat-kalimat penyemangat klise yang tidak menyentuh inti permasalahan. Lama-kelamaan, Anda pasti akan merasa lelah dan enggan untuk berbagi lagi. Inilah mengapa toxic positivity bisa menjadi “musuh tersembunyi” dalam pertemanan, karena ia bekerja secara perlahan dan tanpa disadari hingga akhirnya kita menyadari bahwa hubungan itu sudah renggang.
Contoh Sehari-hari: Ketika Optimisme Berlebihan Menjadi Racun
Mari kita lihat beberapa contoh konkret bagaimana toxic positivity sering muncul dalam percakapan sehari-hari:
- Seorang teman bercerita tentang kesulitan dalam pekerjaannya, lalu kita menjawab, “Syukuri saja masih punya pekerjaan, banyak orang di luar sana yang menganggur.”
- Seorang teman mengungkapkan kesedihannya karena baru putus cinta, lalu kita mengatakan, “Sudahlah, dia bukan yang terbaik untukmu. Nanti juga pasti dapat yang lebih baik.”
- Seorang teman merasa cemas tentang kondisi keuangannya, lalu kita menimpali, “Jangan khawatir, rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting tetap semangat berusaha.”
Meskipun maksud kita baik, respons-respons tersebut cenderung meremehkan perasaan teman kita dan tidak memberikan ruang bagi mereka untuk benar-benar merasakan dan memproses emosi mereka.