Gaya HidupKesehatan MentalPsikologi

FOMO vs JOMO: Temukan Keseimbangan di Era Digital

×

FOMO vs JOMO: Temukan Keseimbangan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
FOMO vs JOMO: Temukan Keseimbangan di Era Digital
FOMO vs JOMO: Temukan Keseimbangan di Era Digital (www.freepik.com)

case.web.id – Di era digital yang serba cepat ini, istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out) seringkali menghiasi percakapan kita, terutama di kalangan anak muda. Fenomena ini mencerminkan dua kutub emosi yang saling bertolak belakang dalam menghadapi arus informasi dan interaksi di media sosial yang tak pernah berhenti. Mari kita telaah lebih dalam tentang keduanya dan bagaimana menemukan keseimbangan di tengah hiruk pikuk dunia maya.

Mengapa FOMO Begitu Nyata?

Pernahkah Anda merasa gelisah saat melihat teman-teman Anda menikmati liburan seru, menghadiri konser musik idola, atau merayakan pencapaian gemilang di media sosial? Jika ya, kemungkinan besar Anda sedang mengalami FOMO. Rasa takut ketinggalan ini dipicu oleh paparan konstan terhadap momen-momen terbaik yang dibagikan orang lain secara daring.

Media sosial, dengan segala kemudahannya dalam menampilkan highlight kehidupan, seringkali menciptakan ilusi bahwa semua orang di luar sana sedang bersenang-senang dan meraih kesuksesan, sementara kita merasa tertinggal. Hal ini diperkuat oleh algoritma yang cenderung menampilkan konten yang paling menarik dan viral, sehingga kita semakin merasa “ketinggalan kereta”.

Dampak dari FOMO tidak bisa dianggap remeh. Kecemasan, stres, perasaan tidak puas dengan diri sendiri, bahkan hingga depresi, bisa menjadi konsekuensi dari terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain di dunia maya. Sebuah studi menunjukkan bahwa individu yang sering merasa FOMO cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental.

JOMO: Ketika Ketenangan Menjadi Pilihan

Di tengah hiruk pikuk FOMO, munculah JOMO sebagai antitesis yang menenangkan. JOMO adalah perasaan puas dan bahagia dengan apa yang sedang kita lakukan, tanpa merasa perlu mengetahui atau terlibat dalam apa yang sedang dilakukan orang lain. Ini adalah seni menikmati momen saat ini, tanpa terdistraksi oleh notifikasi media sosial atau bayang-bayang aktivitas orang lain.

Baca Juga :  Introvert Bukan Pemalu, Luruskan 5 Mitos Ini!

Konsep JOMO mengajak kita untuk lebih fokus pada diri sendiri dan apa yang benar-benar penting bagi kita. Alih-alih merasa tertekan untuk selalu “up-to-date” dengan segala hal, JOMO mendorong kita untuk memprioritaskan kedamaian pikiran dan kebahagiaan pribadi. Bayangkan betapa leganya perasaan Anda ketika bisa menikmati secangkir kopi di pagi hari tanpa harus memeriksa ponsel setiap lima menit, atau ketika bisa fokus sepenuhnya pada percakapan dengan teman tanpa terganggu oleh postingan terbaru di Instagram.

Merangkul JOMO di Era Digital yang Hiperaktif

Lantas, bagaimana caranya kita bisa beralih dari FOMO yang melelahkan menuju JOMO yang menenangkan? Berikut beberapa langkah yang bisa Anda coba:

Batasi Paparan Media Sosial Secara Sadar

Langkah pertama yang paling penting adalah menyadari dan membatasi waktu yang kita habiskan di media sosial. Cobalah untuk menetapkan batasan waktu harian atau mingguan untuk penggunaan media sosial. Anda juga bisa memanfaatkan fitur “screen time” yang tersedia di sebagian besar ponsel pintar untuk memantau dan mengontrol penggunaan aplikasi.

Fokus pada Pengalaman Nyata, Bukan Virtual

Alih-alih terpaku pada layar ponsel, cobalah untuk lebih hadir dalam momen-momen nyata. Nikmati percakapan tatap muka dengan teman dan keluarga, rasakan sensasi angin sepoi-sepoi saat berjalan-jalan di taman, atau fokus pada alur cerita saat menonton film di bioskop. Pengalaman nyata akan memberikan kepuasan yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan validasi semu di media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *