Parenting

Gentle Parenting Bisa Bikin Anak Manja? Ini Faktanya

×

Gentle Parenting Bisa Bikin Anak Manja? Ini Faktanya

Sebarkan artikel ini
Gentle Parenting Bisa Bikin Anak Manja? Ini Faktanya
Gentle Parenting Bisa Bikin Anak Manja? Ini Faktanya (www.freepik.com)

case.web.id – Gentle parenting bukan sekadar tren pola asuh yang sedang naik daun, melainkan sebuah pendekatan yang berakar kuat pada prinsip-prinsip psikologi perkembangan anak dan menawarkan solusi jangka panjang untuk membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Mungkin selama ini Anda mengira gentle parenting hanya soal bersikap lembut dan menghindari bentakan, namun kenyataannya, ada fondasi ilmu yang lebih dalam dan menarik untuk dipahami. Mari kita telaah lebih lanjut!

Lebih dari Sekadar Bersikap Lembut: Mengupas Esensi Gentle Parenting

Banyak orang tua yang mungkin merasa khawatir bahwa gentle parenting akan membuat anak menjadi manja atau tidak disiplin. Padahal, esensi dari pendekatan ini justru terletak pada pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan emosional dan perkembangan kognitif anak. Alih-alih fokus pada hukuman dan kontrol, gentle parenting menekankan pada empati, respek, dan membangun koneksi yang kuat dengan anak. Ini bukan berarti membiarkan anak melakukan apapun yang mereka mau, tetapi lebih kepada membimbing mereka dengan penuh pengertian dan kesabaran.

Prinsip Empati: Kunci Utama dalam Gentle Parenting

Salah satu pilar utama dalam gentle parenting adalah empati. Ini berarti kemampuan orang tua untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh anak. Ketika anak tantrum atau menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan, respons pertama dalam gentle parenting adalah mencoba memahami alasan di balik perilaku tersebut. Apakah mereka sedang lelah, frustrasi, atau merasa tidak didengarkan? Dengan memahami perspektif anak, orang tua dapat merespons dengan lebih tepat dan efektif, alih-alih langsung marah atau menghukum.

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan orang tua yang empatik cenderung memiliki tingkat kecemasan dan agresi yang lebih rendah. Empati dari orang tua membantu anak merasa aman dan dipahami, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk lebih terbuka dan kooperatif.

Baca Juga :  Jarak Emosi, Kesalahan Pola Asuh Hubungan Anak Dewasa

Menghargai Perasaan Anak: Validasi Emosi sebagai Langkah Awal

Seringkali, orang tua secara tidak sadar meremehkan atau mengabaikan perasaan anak. Misalnya, mengatakan “Jangan cengeng!” atau “Itu tidak sakit!” padahal anak sedang menangis. Dalam gentle parenting, menghargai perasaan anak adalah hal yang sangat penting. Ini berarti mengakui dan memvalidasi emosi mereka, meskipun bagi orang dewasa masalah tersebut mungkin terlihat kecil. Dengan mengatakan “Aku tahu kamu sedih karena mainanmu rusak,” orang tua membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosi mereka dengan cara yang sehat.

Penelitian di bidang psikologi anak menunjukkan bahwa validasi emosi dapat meningkatkan resiliensi emosional anak. Ketika anak merasa bahwa perasaannya diterima dan dipahami, mereka akan lebih mampu mengatasi stres dan kesulitan di kemudian hari.

Disiplin Positif: Mengarahkan Tanpa Kekerasan

Disiplin dalam gentle parenting jauh dari hukuman fisik atau verbal. Pendekatan ini lebih menekankan pada disiplin positif, yaitu cara mendidik anak dengan mengajarkan mereka tentang konsekuensi dari tindakan mereka, menetapkan batasan yang jelas, dan memberikan pengarahan yang positif. Misalnya, alih-alih membentak anak karena tidak membereskan mainannya, orang tua bisa menjelaskan dengan tenang mengapa penting untuk membereskan mainan dan menawarkan bantuan jika diperlukan.

Data menunjukkan bahwa hukuman fisik dan verbal dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional dan perilaku anak. Sebaliknya, disiplin positif terbukti lebih efektif dalam jangka panjang karena membantu anak mengembangkan pemahaman internal tentang benar dan salah, serta rasa tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *