Kesehatan MentalParentingPsikologi

Balik Tantrum Jadi Cinta, Panduan Bonding Orang Tua

×

Balik Tantrum Jadi Cinta, Panduan Bonding Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Balik Tantrum Jadi Cinta, Panduan Bonding Orang Tua
Balik Tantrum Jadi Cinta, Panduan Bonding Orang Tua (www.freepik.com)

case.web.id – Tantrum anak seringkali menjadi momok bagi para orang tua. Teriakan kencang, tangisan histeris, hingga aksi berguling-guling di lantai bisa membuat siapa saja merasa kewalahan dan frustrasi. Namun, pernahkah Anda melihat sisi lain dari tantrum ini? Alih-alih menganggapnya sebagai masalah besar, mari kita coba melihatnya sebagai peluang emas untuk mempererat ikatan emosional atau bonding dengan si kecil.

Memahami Lebih Dalam: Mengapa Tantrum Terjadi?

Sebelum membahas lebih jauh tentang peluang bonding, penting untuk memahami akar penyebab tantrum pada anak. Pada dasarnya, tantrum adalah luapan emosi yang kuat dari anak ketika mereka merasa frustrasi, marah, sedih, atau kewalahan. Mereka belum memiliki kemampuan verbal dan regulasi emosi yang matang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dengan cara yang lebih tenang.

Menurut data dari berbagai penelitian psikologi anak, tantrum umumnya terjadi pada rentang usia 1 hingga 4 tahun, yang merupakan periode perkembangan pesat dalam kemampuan kognitif dan emosional mereka. Di usia ini, anak-anak mulai memiliki keinginan dan pendapat sendiri, namun seringkali terbentur dengan batasan atau aturan yang ditetapkan orang tua. Inilah yang kemudian memicu terjadinya ledakan emosi atau tantrum.

Peluang Emas di Balik Ledakan Emosi

Alih-alih merespons tantrum dengan kemarahan atau hukuman, cobalah untuk melihatnya dari sudut pandang anak. Bayangkan betapa frustrasinya mereka ketika tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan atau tidak mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan baik. Di sinilah letak peluang emas untuk membangun bonding yang lebih dalam:

1. Menunjukkan Empati dan Validasi Emosi

Ketika anak sedang tantrum, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah tetap tenang dan menunjukkan empati. Hindari meremehkan atau mengabaikan perasaannya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti ia sedang marah atau sedih. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Ibu/Ayah tahu kamu kecewa karena tidak bisa bermain gadget sekarang.” Validasi emosi ini akan membantu anak merasa didengar dan dipahami, yang merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan dan bonding.

Baca Juga :  Empati Digital, Jangan Biarkan Anak Buta Perasaan di Dunia Maya

2. Menciptakan Ruang Aman untuk Mengekspresikan Diri

Saat tantrum, anak membutuhkan ruang yang aman untuk meluapkan emosinya tanpa merasa dihakimi atau dihukum. Pastikan lingkungan sekitar aman dari benda-benda yang bisa membahayakan dirinya. Biarkan ia menangis atau berteriak sejenak. Kehadiran Anda yang tenang di sisinya akan memberikan rasa aman dan nyaman baginya untuk melepaskan emosinya.

3. Menjadi Pendengar yang Aktif

Setelah emosi anak mulai mereda, cobalah untuk berbicara dengannya dengan lembut. Tanyakan apa yang membuatnya marah atau sedih. Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa menyela atau menghakimi. Dengan menjadi pendengar yang aktif, Anda menunjukkan bahwa Anda peduli dengan perasaannya dan bersedia membantunya mengatasi masalahnya.

4. Mengajarkan Cara Mengelola Emosi

Tantrum juga merupakan kesempatan yang baik untuk mengajarkan anak cara mengelola emosinya dengan lebih sehat. Setelah ia tenang, ajak ia berdiskusi tentang apa yang bisa dilakukan lain kali ketika merasa marah atau frustrasi. Anda bisa memberikan contoh seperti menarik napas dalam-dalam, berbicara dengan orang dewasa, atau melakukan kegiatan yang disukai untuk menenangkan diri.

5. Memperkuat Ikatan Melalui Sentuhan dan Kehadiran

Dalam momen tantrum, kehadiran fisik dan sentuhan lembut dari orang tua bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak. Peluklah ia, usap punggungnya, atau sekadar genggam tangannya. Sentuhan fisik ini akan mengirimkan sinyal kasih sayang dan dukungan, yang akan memperkuat ikatan emosional antara Anda dan si kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *