case.web.id – Mungkin kamu pernah bertanya-tanya, kenapa ya anak yang dulu begitu dekat, kini terasa menjaga jarak? Atau bahkan, kamu sendiri yang merasa ada jurang pemisah dengan orang tua saat ini? Ternyata, tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan di masa lalu bisa menjadi salah satu pemicu utama anak dewasa memilih untuk menjauh. Bukan berarti anak tidak sayang, tapi ada luka atau kebiasaan yang membuatnya merasa lebih nyaman dengan ruang sendiri.
Banyak orang tua yang tentu saja ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, terkadang, niat baik ini justru diwujudkan dalam cara yang kurang tepat dan tanpa disadari memberikan dampak negatif jangka panjang. Lalu, apa saja sih pola asuh yang justru bisa mendorong anak dewasa untuk mengambil langkah mundur dari kehidupan orang tuanya? Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Terlalu Mengontrol dan Sulit Melepas Kepergian Anak
Salah satu pola asuh yang seringkali membuat anak dewasa merasa tertekan adalah kontrol berlebihan yang terus berlanjut hingga mereka dewasa. Orang tua yang terbiasa mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari pilihan teman, jurusan kuliah, hingga urusan pekerjaan dan pasangan, tanpa sadar mengirimkan pesan bahwa mereka tidak mempercayai kemampuan anaknya untuk mengambil keputusan sendiri.
Ketika anak beranjak dewasa, kebutuhan akan otonomi dan kemandirian semakin besar. Jika orang tua masih terus mencoba untuk mendikte dan mencampuri urusan pribadi, anak akan merasa seperti tidak dihargai dan tidak dipercaya. Akibatnya, mereka mungkin akan memilih untuk menjauh demi mendapatkan ruang untuk bernapas dan membuat keputusan sendiri tanpa intervensi yang konstan.
Kritik Pedas yang Terus Menerus Menghancurkan Kepercayaan Diri
Siapa sih yang suka dikritik? Apalagi jika kritik tersebut disampaikan dengan nada merendahkan atau bahkan di depan orang lain. Pola asuh yang penuh dengan kritik pedas dan fokus pada kesalahan anak, alih-alih memberikan dukungan dan apresiasi, bisa sangat merusak kepercayaan diri anak, bahkan hingga mereka dewasa.
Anak yang tumbuh dengan sering mendengar kritikan akan merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya. Hal ini bisa memicu rasa rendah diri, kecemasan, dan ketidakmampuan untuk mengambil risiko. Ketika dewasa, mereka mungkin akan memilih untuk menjauh dari orang tua demi menghindari perasaan negatif yang selalu muncul setiap kali berinteraksi. Mereka mencari lingkungan yang lebih suportif dan menerima mereka apa adanya.
Kurang Empati dan Mengabaikan Perasaan Anak
Setiap anak memiliki emosi dan perasaannya sendiri. Namun, tidak semua orang tua mampu merespons emosi anak dengan tepat. Pola asuh yang kurang empati dan cenderung mengabaikan atau meremehkan perasaan anak bisa membuat anak merasa tidak dipahami dan tidak dihargai.
Misalnya, ketika anak merasa sedih atau kecewa, orang tua mungkin merespons dengan kalimat seperti, “Ah, gitu aja kok sedih,” atau “Jangan cengeng!” Respon seperti ini secara tidak langsung mengajarkan anak untuk menekan emosinya dan merasa bahwa perasaannya tidak valid. Ketika dewasa, mereka mungkin akan kesulitan untuk membangun kedekatan emosional dengan orang tua karena merasa tidak pernah benar-benar dipahami. Mereka cenderung mencari orang lain yang bisa memberikan validasi dan empati yang tidak mereka dapatkan di rumah.
Terlalu Memanjakan Hingga Anak Sulit Mandiri
Meskipun terdengar bertentangan dengan kontrol berlebihan, pola asuh yang terlalu memanjakan juga bisa menjadi pemicu anak dewasa menjauh. Orang tua yang selalu menuruti semua keinginan anak, menyelesaikan semua masalah mereka, dan tidak pernah memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan usianya, justru menghambat perkembangan kemandirian anak.
Ketika anak tumbuh dewasa dan harus menghadapi dunia nyata dengan segala tantangannya, mereka mungkin akan merasa tidak siap dan tidak berdaya. Ketergantungan yang berlebihan pada orang tua bisa membuat mereka merasa malu atau tidak percaya diri. Selain itu, orang tua yang terlalu memanjakan seringkali kesulitan untuk melepaskan anak ketika mereka ingin membangun kehidupan sendiri. Hal ini bisa menimbulkan gesekan dan membuat anak merasa terbebani, sehingga memilih untuk menjaga jarak.