data-sourcepos=”5:1-5:535″>case.web.id – Skor kredit yang kinclong seringkali dianggap sebagai tiket menuju kebebasan finansial. Namun, pernahkah kamu merasa skor kreditmu terus menanjak, tapi saldo rekening bank justru semakin menipis? Jika jawabannya iya, kamu mungkin tidak sendirian. Fenomena ini, yang sering disebut dengan istilah ‘vibe kaya’, tengah menjangkiti kalangan Gen Z dan Milenial, sebuah ironi di mana penampilan dan gaya hidup di media sosial seolah tidak sejalan dengan kondisi keuangan yang sebenarnya. Mari kita telaah lebih dalam fenomena unik ini.
Apa Itu Sebenarnya ‘Vibe Kaya’?
‘Vibe kaya’ bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah representasi gaya hidup yang dipamerkan, terutama melalui platform media sosial. Generasi Z dan Milenial, yang tumbuh di era digital, seringkali terpapar oleh konten-konten yang menampilkan kemewahan, liburan eksotis, barang-barang branded, dan pengalaman-pengalaman mahal lainnya. Hal ini secara tidak langsung membentuk persepsi tentang kesuksesan dan status sosial. Akibatnya, muncul dorongan untuk menampilkan citra serupa, meskipun kondisi keuangan pribadi mungkin tidak sepenuhnya mendukung.
Skor Kredit Tinggi: Bukan Jaminan Dompet Tebal
Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang dengan skor kredit yang baik justru mengalami kesulitan keuangan? Jawabannya terletak pada perbedaan mendasar antara skor kredit dan pengelolaan keuangan pribadi. Skor kredit yang tinggi menunjukkan kemampuan seseorang dalam membayar kembali pinjaman atau kredit tepat waktu. Ini bisa jadi karena mereka memiliki riwayat pembayaran kartu kredit yang baik, cicilan kendaraan yang lancar, atau bahkan pernah mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Namun, skor kredit tidak secara langsung mencerminkan seberapa baik seseorang mengelola anggaran sehari-hari, menabung, atau berinvestasi.
Seseorang bisa saja memiliki skor kredit yang tinggi karena rajin membayar tagihan kartu kredit, tetapi di sisi lain, mereka juga sangat konsumtif dan seringkali membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Inilah salah satu akar masalah dari fenomena ‘vibe kaya’. Keinginan untuk terus memperbarui gaya hidup agar terlihat ‘in’ dan sesuai dengan standar media sosial seringkali mendorong perilaku konsumtif yang berlebihan.
Ketika Perilaku Konsumtif Mengalahkan Akal Sehat
Era digital dan kemudahan berbelanja online semakin memperparah perilaku konsumtif ini. Hanya dengan beberapa klik, barang impian sudah bisa berada di tangan. Belum lagi godaan diskon, flash sale, dan berbagai promo menarik lainnya yang seolah memaksa kita untuk terus berbelanja. Survei dari berbagai sumber menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih impulsif dalam berbelanja dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh iklan dan influencer di media sosial yang terus-menerus menampilkan produk-produk terbaru.
Menurut data dari [sebutkan sumber data terpercaya dan tahunnya jika ada, contoh: Bank Indonesia pada tahun 2024], tingkat konsumsi masyarakat usia muda mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor fashion, gadget, dan lifestyle. Meskipun hal ini dapat memicu pertumbuhan ekonomi, namun jika tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang, dampaknya bisa sangat merugikan.
Media Sosial: Panggung Utama ‘Vibe Kaya’
Tidak dapat dipungkiri, media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk dan melanggengkan fenomena ‘vibe kaya’. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dipenuhi dengan konten-konten yang menampilkan gaya hidup mewah dan serba glamor. Filter dan editing yang canggih semakin membuat tampilan visual terlihat sempurna dan seringkali tidak realistis. Hal ini menciptakan tekanan sosial bagi sebagian orang untuk ikut menampilkan citra serupa, meskipun harus mengorbankan stabilitas keuangan mereka.
Sebuah studi yang dilakukan oleh [sebutkan sumber studi terpercaya dan tahunnya jika ada, contoh: Universitas X pada tahun 2023] menemukan bahwa paparan konten gaya hidup mewah di media sosial secara signifikan meningkatkan keinginan untuk membeli barang-barang mahal di kalangan anak muda. Mereka merasa perlu untuk ‘keeping up with the Joneses’ versi digital, yang sayangnya seringkali berujung pada pengeluaran yang tidak terkontrol.