case.web.id – FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, sebuah perasaan atau persepsi bahwa orang lain sedang mengalami hal yang lebih menyenangkan, lebih baik, atau lebih memuaskan daripada diri kita. Di era digital yang serba terhubung ini, fenomena FOMO semakin merajalela, memengaruhi berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari kesehatan mental hingga keputusan finansial. Mari kita telaah lebih dalam mengenai apa itu FOMO, penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana cara kita bisa mengelola perasaan ini agar hidup lebih tenang dan bermakna.
Penyebab FOMO: Mengapa Kita Merasa Tertinggal?
Ada beberapa faktor yang dapat memicu rasa takut ketinggalan ini, dan media sosial memainkan peran yang sangat signifikan. Bayangkan saja, setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai unggahan teman, kenalan, bahkan orang asing yang menampilkan momen-momen terbaik dalam hidup mereka. Liburan eksotis, pesta meriah, pencapaian karir, hubungan romantis yang tampak sempurna—semuanya tersaji di layar ponsel kita.
Tentu saja, apa yang kita lihat di media sosial seringkali adalah versi terbaik atau highlight dari kehidupan seseorang. Namun, otak kita cenderung membandingkan diri kita dengan semua highlight tersebut, yang kemudian memunculkan perasaan tidak cukup baik atau tertinggal. Selain itu, sifat dasar manusia yang ingin menjadi bagian dari kelompok dan tidak ingin melewatkan pengalaman berharga juga menjadi pemicu FOMO. Kita takut kehilangan informasi penting, tren terbaru, atau kesempatan emas jika tidak terus-menerus terhubung.
Dampak FOMO: Lebih dari Sekadar Perasaan Tidak Enak
FOMO bukan hanya sekadar perasaan iri atau sedikit tidak nyaman. Jika dibiarkan terus-menerus, FOMO dapat berdampak negatif pada kesehatan mental kita. Rasa cemas dan stres adalah dua dampak yang paling umum dirasakan. Kita menjadi khawatir akan apa yang mungkin kita lewatkan, sehingga pikiran kita terus dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan dan perbandingan dengan orang lain.
Selain itu, FOMO juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan harga diri. Ketika kita terus-menerus melihat orang lain tampak lebih bahagia atau sukses, kita bisa mulai meragukan diri sendiri dan merasa tidak berharga. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang sering mengalami FOMO cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dan lebih rentan terhadap depresi. Bahkan, dalam beberapa kasus, FOMO dapat memicu perilaku kompulsif seperti terus-menerus memeriksa media sosial atau melakukan pembelian impulsif hanya karena takut ketinggalan tren.
FOMO dan Media Sosial: Sahabat Karib yang Merugikan
Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah lahan subur bagi tumbuhnya FOMO. Platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter dirancang untuk membuat kita terus terhubung dan melihat apa yang dilakukan orang lain. Algoritma media sosial seringkali menampilkan konten yang paling menarik dan viral, yang semakin memperkuat persepsi bahwa semua orang sedang bersenang-senang tanpa kita.
Fitur seperti stories yang menampilkan momen-momen real-time juga berkontribusi pada FOMO. Kita bisa melihat teman-teman kita sedang makan di restoran hits, menghadiri konser, atau berlibur di tempat yang indah, semuanya dalam hitungan detik. Hal ini menciptakan tekanan untuk selalu mengikuti dan tidak ingin melewatkan pengalaman serupa. Sebuah studi oleh American Psychological Association menemukan bahwa pengguna media sosial yang sering merasa FOMO cenderung lebih sering memeriksa media sosial dan merasa lebih tertekan setelah melakukannya.