HubunganKeluarga

Grey Divorce, Usia Tua Bukan Jaminan Pernikahan Awet

×

Grey Divorce, Usia Tua Bukan Jaminan Pernikahan Awet

Sebarkan artikel ini
Grey Divorce, Usia Tua Bukan Jaminan Pernikahan Awet
Grey Divorce, Usia Tua Bukan Jaminan Pernikahan Awet (www.freepik.com)

case.web.id – Pernahkah kamu mendengar istilah Grey Divorce? Mungkin terdengar asing, tapi fenomena ini semakin sering terjadi di sekitar kita. Sederhananya, Grey Divorce adalah perceraian yang terjadi pada pasangan yang telah berusia 50 tahun ke atas. Ironis memang, di usia senja yang seharusnya menikmati kebersamaan, justru memilih jalan perpisahan. Fenomena ini bukan lagi sekadar isu individual, tapi sudah menjadi tren global yang menarik untuk kita telaah lebih dalam.

Mengapa Pernikahan yang Sudah Bertahun-tahun Bisa Kandas di Usia Senja?

Banyak yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya yang memicu Grey Divorce? Setelah puluhan tahun membangun rumah tangga, membesarkan anak, dan melewati berbagai suka duka, mengapa di usia emas justru memilih untuk berpisah? Ternyata, ada beberapa penyebab utama yang melatarbelakangi fenomena ini.

Salah satu faktor yang sering muncul adalah perubahan ekspektasi dan prioritas hidup. Ketika anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan rumah (empty nest syndrome), pasangan mungkin baru menyadari bahwa mereka tidak lagi memiliki banyak kesamaan atau tujuan hidup yang sama. Selama ini, fokus mereka mungkin lebih banyak tertuju pada anak-anak, dan ketika peran itu berkurang, kekosongan dalam hubungan suami istri menjadi lebih terasa.

Selain itu, masalah keuangan dan kesehatan juga sering menjadi pemicu. Menjelang pensiun/”>masa pensiun, tekanan finansial bisa meningkat, terutama jika ada masalah kesehatan yang membutuhkan biaya besar. Perbedaan pandangan dalam mengelola keuangan atau ketidakmampuan salah satu pihak untuk menerima kondisi kesehatan pasangan juga bisa memicu konflik yang berujung pada perceraian.

Kurangnya komunikasi dan komitmen yang memudar seiring berjalannya waktu juga memainkan peran penting. Kesibukan masing-masing, kurangnya waktu berkualitas bersama, dan ketidakmauan untuk saling mendengarkan dan memahami bisa membuat jarak emosional semakin lebar. Ketika masalah-masalah kecil terakumulasi tanpa adanya upaya untuk menyelesaikannya, bom waktu perceraian bisa saja meledak di usia senja.

Baca Juga :  Keluarga Harmonis? Waspadai 3 Manipulasi Terselubung Ini!

Usia Bukan Jaminan: Bagaimana Perubahan Hidup Mempengaruhi Pernikahan Lansia

Usia memang hanyalah angka, tapi perubahan hidup yang datang seiring bertambahnya usia bisa memberikan tekanan tersendiri pada pernikahan. Masa pensiun, misalnya, bisa menjadi masa transisi yang sulit bagi sebagian pasangan. Rutinitas yang berubah drastis, interaksi sosial yang berkurang, dan perasaan kehilangan peran bisa memicu stres dan ketegangan dalam hubungan.

Belum lagi perubahan fisik dan kesehatan yang tak terhindarkan. Merawat pasangan yang sakit atau menghadapi keterbatasan fisik diri sendiri bisa menjadi tantangan yang berat. Jika fondasi pernikahan tidak kuat, tekanan ini bisa menjadi terlalu besar untuk ditanggung bersama.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journals of Gerontology, pada tahun 1990, hanya sekitar 8,7 persen perceraian yang melibatkan pasangan berusia 50 tahun ke atas. Namun, angka tersebut melonjak drastis menjadi 36 persen pada tahun 2019 1 di Amerika Serikat. Meskipun data spesifik untuk Indonesia mungkin belum terlalu banyak, tren global ini menunjukkan bahwa Grey Divorce adalah fenomena yang nyata dan perlu diperhatikan. 

Komunikasi dan Komitmen: Pilar Utama Pernikahan di Segala Usia

Lantas, bagaimana cara mencegah Grey Divorce? Jawabannya mungkin terdengar klise, tapi komunikasi yang efektif dan komitmen yang kuat adalah kunci utama dalam mempertahankan pernikahan di segala usia, termasuk usia senja.

Cobalah untuk selalu terbuka dan jujur dengan pasangan tentang apa yang kamu rasakan, pikirkan, dan harapkan. Luangkan waktu berkualitas bersama, meskipun hanya sekadar mengobrol santai atau melakukan hobi bersama. Ingatlah kembali janji pernikahan yang pernah diucapkan, dan teruslah berkomitmen untuk saling mendukung, menghargai, dan mencintai dalam kondisi apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *