case.web.id – Siapa sih yang nggak pengen punya keluarga bahagia? Pasti semua orang idam-idamkan rumah yang penuh tawa, saling mendukung, dan jauh dari drama berkepanjangan. Tapi, jujur aja, namanya juga hidup bareng, gesekan dan perbedaan pendapat pasti ada. Justru di sinilah seni membangun keluarga bahagia itu diuji: bagaimana kita menghadapi konflik tanpa malah bikin hubungan jadi retak kayak keramik retak seribu.
Konflik dalam keluarga itu wajar banget, lho. Bahkan, menurut penelitian dari John Gottman Institute, pakar hubungan terkemuka, cara kita mengatasi konflik justru jadi salah satu fondasi utama keharmonisan keluarga. Jadi, bukannya dihindari, konflik ini perlu dihadapi dengan kepala dingin dan strategi yang tepat. Nah, buat kamu yang pengen banget mewujudkan keluarga bahagia impian, yuk simak 5 strategi jitu atasi konflik tanpa bikin hubungan jadi renggang!
1. Dengarkan Aktif dengan Empati: Kunci Utama Memahami Perspektif Lain
Seringkali, saat lagi panas, kita lebih fokus untuk menyampaikan apa yang ada di kepala kita sendiri daripada benar-benar mendengarkan apa yang dirasakan anggota keluarga lain. Padahal, mendengarkan secara aktif itu krusial banget. Coba deh, saat ada masalah, benar-benar fokus pada apa yang diucapkan, perhatikan juga bahasa tubuhnya. Cobalah untuk memahami sudut pandangnya, meskipun kamu nggak sepenuhnya setuju.
Empati juga memegang peranan penting. Bayangkan dirimu berada di posisinya, apa yang mungkin kamu rasakan? Dengan berempati, kita jadi lebih bisa menahan diri untuk tidak langsung menghakimi atau menyalahkan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa keluarga yang anggotanya saling berempati cenderung lebih mudah menyelesaikan konflik dan memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Jadi, lain kali ada selisih paham, coba deh tarik napas, dengarkan dengan seksama, dan tempatkan dirimu di posisi lawan bicaramu.
2. Cari Akar Masalah, Bukan Sekadar Menyalahkan
Konflik yang muncul di permukaan seringkali hanyalah puncak gunung es. Di baliknya, ada akar masalah yang lebih dalam yang perlu diidentifikasi. Misalnya, anak yang sering telat mengerjakan PR mungkin bukan sekadar malas, tapi bisa jadi dia kesulitan memahami materi atau merasa tertekan dengan ekspektasi. Begitu juga dengan pasangan, pertengkaran soal pembagian tugas rumah tangga bisa jadi berakar dari rasa tidak dihargai atau kelelahan.
Daripada saling menyalahkan, cobalah untuk menggali lebih dalam. Tanyakan “kenapa” di balik perilaku atau ucapan yang membuatmu tidak nyaman. Dengan menemukan akar masalahnya, kita jadi bisa mencari solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan, bukan cuma menyelesaikan gejalanya sesaat. Ingat, fokusnya adalah mencari solusi bersama, bukan mencari siapa yang salah.
3. Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat untuk Berdiskusi
Nggak semua waktu dan tempat ideal untuk membahas masalah yang sensitif. Coba bayangkan kalau kamu lagi capek banget setelah seharian kerja, terus tiba-tiba pasanganmu mengajak membahas masalah keuangan yang lagi rumit. Dijamin, diskusi yang seharusnya produktif malah bisa berujung pada pertengkaran yang nggak perlu.
Pilihlah waktu ketika semua anggota keluarga dalam kondisi yang tenang dan tidak terburu-buru. Tempat yang nyaman dan privat juga bisa membantu menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk berdiskusi. Hindari membahas masalah di depan umum atau saat salah satu pihak sedang emosi tinggi. Menunda diskusi sebentar untuk menenangkan diri justru bisa membantu kita berpikir lebih jernih dan menyampaikan pendapat dengan lebih baik.