Gaya HidupHubungan

Pacaran Dulu dengan Sekarang, Mana yang Lebih Waras?

×

Pacaran Dulu dengan Sekarang, Mana yang Lebih Waras?

Sebarkan artikel ini
Pacaran Dulu dengan Sekarang, Mana yang Lebih Waras?
Pacaran Dulu dengan Sekarang, Mana yang Lebih Waras? (www.freepik.com)

case.web.id – Pacaran di era TTM dan ghosting, sebuah realita yang sering kita jumpai, sangat kontras dengan romansa era kirim surat cinta yang mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang. Perbedaan fundamental dalam pola komunikasi, dampak emosional, hingga nilai-nilai yang dianut dalam sebuah hubungan menjadi pembeda utama. Lantas, di antara kedua era ini, manakah yang sebenarnya lebih menyehatkan bagi perkembangan diri dan hubungan itu sendiri? Mari kita telaah lebih dalam.

Pergeseran Pola Komunikasi: Dari Ungkapan Hati Tertulis hingga Pesan Instan yang Ambigu

Dulu, untuk menyampaikan rasa suka atau rindu, seseorang akan bersusah payah merangkai kata demi kata dalam sebuah surat cinta. Prosesnya yang membutuhkan waktu dan pemikiran matang mencerminkan kesungguhan perasaan. Bayangkan betapa berdebarnya hati saat menunggu balasan surat yang mungkin memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Kesabaran dan ketidakpastian ini justru menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap setiap interaksi.

Berbanding terbalik dengan era kini, di mana komunikasi serba cepat dan instan. Istilah “TTM” (Teman Tapi Mesra) dan “ghosting” menjadi fenomena yang lazim. TTM, sebuah hubungan tanpa status yang jelas, seringkali membuat salah satu pihak merasa digantungkan tanpa kepastian. Sementara itu, ghosting, yaitu menghilang tanpa kabar, meninggalkan luka dan kebingungan yang mendalam bagi pihak yang ditinggalkan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa pengalaman ghosting dapat menyebabkan tingkat stres dan kecemasan yang signifikan, mirip dengan pengalaman penolakan sosial.

Dampak Emosional: Kepercayaan Diri dan Stabilitas Hubungan di Ujung Tanduk

Era surat cinta, dengan segala keromantisannya, cenderung membangun fondasi emosional yang lebih kuat. Setiap surat adalah bukti nyata dari perhatian dan kesungguhan. Rasa percaya diri tumbuh karena adanya validasi yang jelas dari pasangan. Hubungan pun terasa lebih stabil karena adanya komitmen yang diucapkan dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Baca Juga :  Silent Killers dalam Hubungan, Lebih Berbahaya dari Red Flags!

Di sisi lain, era TTM dan ghosting seringkali mengikis rasa percaya diri. Ketidakjelasan status dalam TTM bisa menimbulkan keraguan akan nilai diri dan pertanyaan tentang seberapa penting diri kita bagi orang lain. Pengalaman ghosting, apalagi jika terjadi berulang kali, dapat merusak kepercayaan terhadap orang lain dan bahkan terhadap diri sendiri. Sebuah artikel di Psychology Today menyebutkan bahwa ghosting bisa memicu perasaan tidak berharga dan penolakan, yang berdampak negatif pada kesehatan mental jangka panjang.

Kecepatan Membangun dan Mengakhiri Hubungan: Antara Kesabaran dan Instanitas

Membangun hubungan di era surat cinta membutuhkan waktu. Proses saling mengenal terjadi secara bertahap, melalui pertukaran surat yang memungkinkan seseorang untuk merenungkan dan mengungkapkan perasaannya dengan lebih mendalam. Mengakhiri hubungan pun biasanya dilakukan dengan komunikasi yang jelas dan penuh pertimbangan.

Sebaliknya, teknologi modern menawarkan kecepatan dalam segala hal, termasuk dalam membangun dan mengakhiri hubungan. Aplikasi kencan dan media sosial memudahkan kita untuk bertemu dengan banyak orang dalam waktu singkat. Namun, kemudahan ini juga berimplikasi pada kurangnya kedalaman dalam interaksi awal. Mengakhiri hubungan pun seringkali dilakukan dengan cara yang instan dan tidak bertanggung jawab, seperti melalui pesan singkat atau bahkan menghilang begitu saja (ghosting).

Perubahan Nilai dalam Hubungan: Komitmen, Kesetiaan, dan Kesungguhan

Dulu, nilai-nilai seperti komitmen, kesetiaan, dan kesungguhan menjadi fondasi utama dalam sebuah hubungan. Proses “menembak” atau menyatakan cinta pun menjadi momen sakral yang menandakan keseriusan. Janji dan ungkapan cinta tertulis dalam surat memiliki bobot yang lebih mendalam karena diucapkan dengan penuh pertimbangan.

Di era modern, nilai-nilai ini seolah mengalami pergeseran. Konsep “fleksibilitas” dan “pilihan yang tak terbatas” seringkali membuat komitmen terasa kurang mengikat. Fenomena “selingkuh online” atau “micro-cheating” menjadi bukti bahwa kesetiaan memiliki definisi yang lebih cair. Kesungguhan dalam menjalin hubungan pun terkadang dipertanyakan ketika interaksi lebih banyak terjadi di dunia maya daripada dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *